Antara Sistem Dan Tindakan

 

Jajaran pemerintahan Indonesia, Dari sekian banyak kabinet kerjanya Presiden Jokowi, secara emosi, saya pribadi hanya merasa dekat dengan Imam Nahrawi yang di amanahi sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga ini. Walaupun, banyak senior dan sahabat dekat saya yang memiliki kedekatan lebih kepada beliau ketimbang saya pribadi.

Cak Imam, begitu saya memanggilnya, adalah satu-satunya senior yang karier politiknya melejit. Beliau "satu rahim" dengan saya; sama-sama pernah ditempa dan berproses di PMII Komisariat Sunan Ampel Surabaya. Walaupun saya dan beliau beda masa dalam berproses.

Cak Imam dikenal ringan tangan, mudah membantu, apalagi dalam urusan yang berhubungan, baik langsung maupun tidak, dengan PMII. Utamanya saat hendak helat acara kaderisasi seperti Mapaba, PKD, PKL dan seremoni seperti pelantikan, seminar, dlsb. Belum lagi soal sikapnya yang mudah bergaul dan menyediakan makanan kepada mereka yang kurang makan dan makanannya tidak sempurna dari sisi gizi. Mereka yang saya maksud, pada umumnya adalah aktivis PMII sendiri yang slogannya kerap menyatakan pembela mustad'afien di tengah mustad'af-nya sendiri terus dimaklumi. Tidak sedikit di antara mereka yang “numpang” dan “mencari hidup” melalui beliau.

Dari sisi ia sebagai politikus, kita harus fair melihatnya sebagai politisi. Dalam konteks politik di Indonesia, apalagi yang berhubungan dengan praktik rasuah seperti korupsi, sungguh rumit dan kompleks. Dalam rumus politik yang familier di antara kita; tiada kawan dan lawan yang abadi dalam politik, yang ada hannyalah kepentingan, memang memerlukan "seni" tersendiri dalam "memainkan"-nya.

Dari sisi status yang baru disandangnya sebagai tersangka dalam dugaan tindak pidana korupsi, saya rasa wajar, sebab beliau menteri yang berhubungan langsung dengan penandatanganan sebuah plan program pemerintah. Ia bertanggung jawab atas setiap program yang diprogram.

Dalam melaksanakan sebuah program di Indonesia, banyak pembiayaan yang tidak ter-cover, banyak deal-deal tertentu yang secara teknis-eksekusi, memerlukan pembiayaan yang tak bisa dimasukkan dalam penganggaran formal yang ada. Di sinilah korupsi berpeluang besar terjadi. Apalagi, dalam pelaksanaan program negara itu, terbangun pola, programnya dijalankan dulu, baru kemudian pembiayaannya terealisasi. KPK berhasil mengendus kejanggalan dalam suatu pelaksanaan program yang diprogram oleh Kemenpora, yaitu pengadaan suatu barang yang terealisasi setelah acara dihelat.

Dalam konteks eksekusi suatu program pun, meskipun yang bertanggung jawab, yang bertanda tangan katakanlah Cak Imam, yang terlibat banyak orang. Atas tindak korupsi yang disangkakan kepada Cak Imam, bisa jadi yang menikmatinya bukanlah Cak Imam, tapi mereka-mereka yang "mengelilingi" Cak Imam. Entah atas inisiasinya Cak Imam atau inisiasi pribadi dari mereka-mereka yang "mengelilingi" Cak Imam. Hanya mereka yang terlibat langsung yang tahu. Untuk mengetahui ini, mari ikuti terus perkembangan kasus ini. Utamanya saat nanti Cak Imam diperiksa di pengadilan.

Sebelum Cak Imam pamit di Kemempora, beliau sudah menyatakan siap menghadapi perkara ini di pengadilan.

Maka tepat bila, PMII Surabaya dan IKA PMII Surabaya -jika IKA PMII Surabaya juga mau memberi dukungan-, memberikan dukungan moral kepada beliau agar tegar menghadapi kasus hukum yang baru disandangnya ini. Toh misal pun nanti beliau terbukti secara hukum telah melakukan tindak pidana korupsi, mari lihat dan tempatkan ia sebagai politisi yang kadang memang terkondisi untuk melakukan korupsi. Dengan faktor tindakan koruptif yang hanya Cak Imam sendiri yang tahu. Apalagi, kita tahu biaya politik di Indonesia saat ini memang tidak murah, sobat.

Dalam dinamika politik kita saat ini pun, ada banyak sebab-akibat yang memungkinkan untuk melakukan korupsi karena terkondisi oleh situasi. Tidak menutup kemungkinan, kita, bahkan saya sekalipun, bila berkecimpung di dalam jabatan politik, juga terkondisi untuk melakukan korupsi.

Di tengah kita lagi berikhtiar mencari formulasi yang efektif dalam menekan perilaku korupsi yang telah mendarah daging ini, sebab korupsi juga secara prinsip melawan diri kita sendiri, rasanya tak elok jika kita dalam melihat dan menilai KPK bertindak serampangan, tergesa-gesa dan dipaksakan dalam menetapkan Cak Imam sebagai tersangka. Kerja di KPK pasti memiliki tekanan yang maha dahsyat karena melawan perilaku umum yang sudah mendarah daging ini. Dalam konteks penetapan tersangka, di KPK sudah ada mekanismenya tersendiri.

Bersimpati kepada Cak Imam dengan cara-cara serampangan seperti larut dalam isu KPK Taliban, selain tidak efektif dan tidak berkontribusi secara positif kepada Cak Imam dalam menghadapi kasus hukumnya, juga hanya akan memperkeruh suasana. Saya rasa, KPK Taliban adalah isu receh, tidak ber-nash dan sampai saat ini saya masih belum menemukan penalaran akademisnya. Isu KPK Taliban masih dangkal dan tidak jelas juntrungnya.

Kita tahu bahwa korupsi itu telah menjadi kanal tunggal dari mengapa republik ini tetap terbelenggu dalam kemiskinan, kesusahan, dan keadilan sosial semakin jauh dari harapan. Hukum masih terasa tumpul ke atas dan tajam ke bawah akibat prilaku korup, hukum sebagai panglima belum ditegakkan secara maksimal tanpa memandang status sosial atas setiap orang akibat prilaku korup. Sistem dan waktu biasa kita korupsi-manipulasi sehingga sistem yang ada tidak bisa dijalankan sebagaimana mestinya, plus semakin menguatnya politik oligarki dengan pola asal bapak senang menjadi tantangan tersendiri atas kita dalam bagaimana berbangsa dan bernegara ke depan. Atas dasar itulah, kita harus ambil peran sesuai takaran kemampuan masing-masing agar perilaku korup, apalagi tindakan korup yang memengaruhi tidak tegaknya hukum, tidak dilaksanakannya sistem aturan yang ada, harus mulai dijauhi untuk kemudian ditinggalkan.

Cak Imam, tegar dan kuatlah dalam menghadapi kasus ini. Saya pun akan turut bersamamu dalam doa dan harapan sembari berbuat dan berikhtiar agar korupsi di republik ini tidak terus menjadi-jadi.

Selamat pagi para Pembaca di media sosial

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru