Stabilitas pemilu, kader PMII tidak boleh pengecut...!

Berbuat/menyampaikan sesuatu hal yang "benar" tidak akan dinilai epektif jika harus dijanai melalui retorika yang panjang, apalagi sampai sulit dimengerti banyak orang. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan bagi sang politisi ketika pada saat mereka menyampaikan kebenaran pendidikan politik di tengah-tengah masyarakat yang hari ini masih sulit menerima dunia politik itu sendiri (masyarakat awam). Secara bahasa sederhana, "seseorang akan dikatakan berpengaruh apabila mereka bisa mempengaruhi orang-orang diseklilingnya tanpa harus memakan waktu lama".

Islam adalah satu-satunya agama yang benar, semestinya penganut agama demikian tidak boleh takut dalam menyampaikan kebenaran agamanya. Selanjutnya, Islam juga agama yang mengajarkan kita menjadi manusia yang berani, jujur serta konsistand dalam berjihad melalui jalan-jalan yang benar. Pastikan setiap kafasitas anda adalah termasuk orang-orang yang selalu memperjuangkan kebenaran sehingga mudah diterima masyarakat di berbagai lingkungan setempat. Menurut penulis, perjuangan tersebutlah yang semestinya bisa dilakukan oleh parpol serta politisi di dalamnya yang sejauh ini mengkalim dirinya bersih.

Tetapi mengapa kemudian muncul sebuah asumsi bahwa terkadang seseorang dianggap gagal, atau merasa dirinya telah gagal..? Pertanyaan ini menuntut siapa saja yang selama ini belum bisa istikomah dan sabar dalam berjuang, tanpa terkecuali saya sendiri harus menjawabnya.

Setiap kebenaran akan berpihak kepada kita apabila dibarengi sifat sabar, serta sikap yang selalu konsistand (istiqomah). Hari ini, banyak orang yang justru kehilangan kredibilitasnya gara-gara mereka ragu dan berbelit-belit dalam menyampaikan kebenaran. Sejalan dengan hal ini, maka Kader PMII tidak boleh menjadi mahasiswa pengecut, Kader PMII harus berani menunjukan identitasnya selaku mahasiswa pemberani dalam menegakkan setiap kebenaran.

Sejak kapan kader PMII harus berani...?

Dalam kondisi dan situasi apapun bahwa kader PMII tertuntut harus berani. Misalkan sebentar lagi akan ada pemilu di negara ini, dan dipastikan mereka selaku kader PMII harus terlibat di dalamnya, dan harus berani menjadikan pemilu nantinya menjadi momentum sakral yang tertib dan stabil tanpa ada semacam gangguan. Stabilitas pemilu adalah sebuah kebutuhan bagi negara demokrasi dan stabilitas pemilu nantinya  tergantung "KITA", sehingga beranikah kita semua selaku masyarakat bangsa berjanji untuk menyukseskan pemilu ini secara bersama...?

KPU sebagai penyelenggara pemilihan umum sudah pasti menginginkan pemilu di tahun ini berjalan lancar tanpa ada semacam gangguan apapun. Begitu juga dengan Bawaslu serta pihak-pihak lainnya seperti; kepolisian, kemitraan, dll.

Terlepas dari harapan beberapa komponen di atas, nyatanya pemilu ini bukan terselenggara hanya atas dasar keinginan kelompok-kelompok tertentu. Akan tetapi pemilu ini terselenggara karena sebuah tuntutan dari kebutuhan bangsa Indonesia sebagai negara demokrasi.

Jika beberapa hari yang lalu, wakil wali kota Mataram (H. Mohan Roliskana) berbicara melalui surat kabar (lombok post, 23/02/14) ia menyampaikan bahwa "kader PMII di larang memilih golput". Dalam kesempatan ini maka penulis juga akan menegaskan kembali bahwa pemilu merupakan sebuah momentum sakral yang harus jalankan oleh segenap bangsa Indonesia, pemilu juga menjadi salah satu kebutuhan Indonesia sebagai negara hukum, sehingga tanpa terkecuali kami selaku rakyat yang tergabung di PMII harus terlibat dan siap menyukseskan pemilu ini dengan baik dan bermanfaat. Haram bagi kami selaku kader PMII untuk memilih golput, karena golput hanya menjadi pilihan orang-orang yang pengecut di bangsa ini.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru