logoblog

Cari

Pemuda Dan Pilkada Serentak 2020 Di NTB

Pemuda Dan Pilkada Serentak 2020 Di NTB

Oleh: M. Ufatul  Akbar  Jafar Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada tahun 2020 akan digelar di 270 daerah.Pemilihan kepala daerah (pilkada)

Politik

Uba Leu
Oleh Uba Leu
13 Juni, 2019 14:41:05
Politik
Komentar: 0
Dibaca: 6341 Kali

Oleh: M. Ufatul  Akbar  Jafar

Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada tahun 2020 akan digelar di 270 daerah.Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada tahun 2020 akan digelar di 270 daerah. Rincian daerah yang akan menggelar Pilkada 2020, yakni 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Di NTB sendiri akan menggelar PILKADA serentak yang akan diikuti sebanyak tujuh kabupaten/kota yang akan menggelar Pilkada serentak di NTB. Adalah Lombok Utara, Kota Mataram, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu dan Bima.

Dalam setiap kontestasi (PILKADA) tensi politik menjadi memanas, suhu politik mulaimendidih menyebabkan pertarungan semakin sengit diantara para calon kandidat yang ingin bertarung, para calon kadidat/kandidat mulai membangun citra kian hingar-bingar seiring berbagai publisitas yang dimainkan oleh media. Partai politik, elite politik, simpatisan, dan calon kepala daerah sudah tentu berlomba untuk meraih kemenangan dengan berbagai strategi dan manuver.

Satu hal yang pasti dalam setiap kontestasi, yaitu ada segudang janji politik yang akan ditawarkan oleh masing-masing kandidat, halaman-halaman surat kabar, media online, pamplet, baliho dan media yang lain mulai dipenuhi oleh gambar, foto dan profile para kandidat. Dalam kontestasi janji politik dipahami sebagai strategi jitu karena tidak sedikit voter menentukan pilihannya berdasarkan janji politik (visi-misi) kandidat, Ada janji yang sifatnya retorik belaka dan ada pula yang utopis. Janji-janji tersebut bukannya tanpa imbalan namun dibalik itu terdapatmaksud kekuasaan lewat perebutan simpati rakyat.

Politik Pragmatis Dalam Kontestasi Pilkada yang notabene sebagai kontes perebutan kekuasaan memang selalu menguras emosi, tenaga, fikiran, bahkan biaya. Sehingga tak jarang banyak orang yang terjebak kedalam praktek, politik yang pragmatis seperti, money politics (politik uang), mahar politik, politik balas budi.

mereka sudah tidak peduli dengan akibat yang dihasilkan dari manuver yang dilakukan, karena yang terpenting adalah bagaimana cara menduduki kursi kekuasaan. Bahkan kalangan pemuda juga sering ikut terseret dalam pragmatisme politik baik sebagai timses bahkan kalangan muda yang menjadi kandidat dalam kontestasi itu sendiri, sehingga menyebabkan mereka larut dalam kepentingan yang sesaat, pemuda hanya sekedar menjadi supporter bayaran dalam kontestasi dan tidak mampu menjadi bagian penting dalam kontestasi, tidak mampu memainkan peran sebagai agent perubahan di daerahnya sendiri.

Pragmatisme dalam kontestasi tentu tidak hanya terjadi karena faktor personal atau kelompok, akan tetapi terjadi karena sistim politik yang mengharuskan setiap orang/kandidat untuk mengeluarkan cost politic yang lebih tinggih (high cost politic), realitas sistem demokrasi yang terjadi sekarang adalah berbiaya tinggi (high cost).  

Sehingga bukan rahasia lagi, seseorang yang ikut berkiprah dalam dunia politik harus mengeluarkan mahar politik yang sangat tinggi seperti membayar partai politik sebagai kendaran dalam kontestasi walaupun ada jalur independen, akan tetapi melalui partai politik memiliki probabilitas yang sangat tinggi untuk menjadi pemenang, para kandidat juga harus menyediakan cost untuk kampanye, membiayai timses serta alat peraga kampanye lainnya, ditambah lagi dengan prilaku pemilih yang selalu mengukur kandidat dengan rupiah (money politic) serta perilaku kandidat yang dengan sengaja melakukan money politik. Pragmatisme seperti ini sudah barang tentu akan menjadi perusak demokrasi yang selalu menjujung tinggi egalitarianism (Hak-kewajiban) dalam kontestasi.

 

 

Baca Juga :


Generasi Muda harus Mengambil Peran.

Pemuda memiliki peranan penting dalam mewujudkan demokrasi Indonesia. Sebagai salah satu alat mencapai demokrasi, Sebagai bagian dari komponen bangsa, pemuda tidak dapat melepasdkan diri dan menghindar dari politik, pemuda harus mampu megambil peran penting dalam pilkada tentu bukan sebagai sebuah kewajiban tapi sebagai Hak konstitusional serta pertanggungjawaban etik kepada masyarakat luas. Sebab hakekat manusia termasuk pemuda adalah zoon politicon atau mahluk politik. Pilkada sebagai pengajawantahan sistem demokrasi langsung memberikan ruang yang luas bagi rakyat khususnya pemuda untuk berpartisipasi untuk menentukan secara langsung pemimpinnya tanpa melalui perwakilan sebagaimana sistem pilkada tidak langsung.

Dalam kontestasi (PILKADA) ada banyak sekali masalaha yang senantiasa mengintai proses demokrasi (PILKADA) sebagaimana penulis paparkan di bagian premis mayor diatas, mulai dari masalah money politik, mahar politik, perilaku pemilih yang pragmatis, serta masih banyak maslah lainnya yang semuanya itu bisa mereduksi nilai-nilai dalam demokrasi.

Oleh sebab itu, Sebagai kelompok yang memiliki idealisme yang tinggi, pemuda mempunyai posisi yang kuat, posisi yang tidak mudah digoyahkan, posisi yang independen dan mardeka. Sebagai pemuda yang peduli akan tanah kelahiran, sudah semestinya pemuda tidak lagi menjadi penonton yang baik yang siap menerima setiap keputusan yang ada. Seolah-olah tidak peduli dengan siapapun yang akan memimpin, bagaimana program kerjanya dan bagaimana pula dengan janji politik yang telah dijanjikannya sewaktu kampanye.

Sudah saatnya pemuda dapat mengawal setiap proses Pilkada yang akan berlangsung tahun 2020 di NTB. Minimal denganmencari tahu serta mengetahui rekam jejak calon pemimpin yang akan memimpin nantinya serta pemuda bisa memainkan perannya minimal melalui pemanfaatan media masa sebagi media edukasi kepada masyarakat luas terkait PILKADA serentak yang akan dilakukan tahun 2020 mendatang, demi kemajuan tanah kelahiran, pemuda yang kritis sangat diperlukan.

Saya akan mengahiri tulisan ini dengan mengutip, Soe Hok Gie & quot; hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. tetapi aku memilih untuk mardeka & uot.  Begitulah seharusnya pemuda, mampu berdiri sendiri dalam posisi tawar, tidak mempunyai kepentingan dan menguntungkan diri sendiri. Tetapi tetap jeli dan kritis paada politik.



 
Uba Leu

Uba Leu

Fitrah Zaiman biasa dipanggil Uba Leu lahir di Desa Leu Sila, anak kedua dari pasangan Deo Uba Tika dan Faridah, Adik dari Al Amin dan Abang dari Rabiatul Adawiah. #HiduplahMenghidupkan#

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan