logoblog

Cari

Tutup Iklan

TGB Untuk Indonesia Satu Dua

TGB Untuk Indonesia Satu Dua

Sebuah Catatan Abu Bongoh yang Dapat Diabaikan Entah apa yang ada difikiran Abu Macel menengok secarik kertas di atas meja dalam

Politik

Abu Macel
Oleh Abu Macel
24 Maret, 2018 11:56:23
Politik
Komentar: 0
Dibaca: 10982 Kali

Sebuah Catatan Abu Bongoh yang Dapat Diabaikan

Entah apa yang ada difikiran Abu Macel menengok secarik kertas di atas meja dalam kamar Abu Bongoh. Hendak diambilnya kertas itu namun terdengar suara dari kamar mandi. “Baca saja kalua ente mau. Itu hanya catatan untuk kebutuhan orang kecil dan bukan untuk mereka,” kata Bongoh.

“Hmmm…. apa maksudnya, kok pake kata mereka?” Gumam Abu Macel sambil membaca isi kertas itu dan begini bunyinya;

Dalam teori Marketing ada yang disebut dengan BAS yakni Branding, Advertising dan Selling. Temukan Brand-nya kemudian promosikan dan tawarkan ke publik. Demikian pula dalam politik.

Seorang Jokowi di Branding sebagai pemimpin sederhana oleh para pemilik modal. Mulai dari modal harta hingga modal dengkul. Awalnya Jokowi "hanya ngurus" sungai Bengawan Solo dan bersandar pada Mobil eSeMKa sebagai pemantik kemudian langsung jadi Gubernur di Ibukota Negara Republik Indonesia.

Saat jadi Gubernur dia diminta ngurusi Sungai, Bendungan dan Tanah Abang karena memang itu epicentrum kegelisahan warga Jakarta yakni Banjir dan Macet. Dua issue pamungkas ini mengisi ruang informasi publik sejak sarapan pagi hingga pengantar tidur seluruh penduduk nusantara melalui berbagai media dan mengantarkannya menjadi Presiden Republik Indonesia dalam kurun waktu 1,5 tahun.

Sebagai Presiden, issue yang dikawal dan menjadi magnit publik adalah Anti Korupsi, sebab dia adalah Presiden yang berlatarbelakang hanya pedagang meuble alias tak punya perusahaan besar. Anaknyapun hanya punya warung kecil, sehingga tak ada beban untuk memberantas korupsi yang menyesakkan dada rakyat. Issue ini disadari tak memiliki potensi konflik besar. Semua Agama, lintas Budaya, Suku dan Ras apapun pasti akan mengepalkan tangan dan menghibarkan bendera perang terhadap korupsi.

Maka gerakan pihak lawan politik yang memainkan issue kominis dan agama sudah dapat dibaca sebagaimana analisa Eep Saifullah yang telah berhasil menjadikan Anis Sandi pemimpin Jakarta. Kontra strategi pemenangan Anis Sandi ini adalah dengan menemukan tokoh anti penista agama yang menjadi simbol perlawanan

Metode yang digunakan dan terbukti ampuh adalah dengan menguasai dan menggerakkan media mainstream yang sudah tak netral serta media sosial yang informasinya dapat mengendalikan dan mempengaruhi syaraf publik melalui penggiringan opini yang terus menerus.

 

Baca Juga :


Dan salah satu tokoh politik yang dinilai publik anti penista agama dan berpeluang diterima penghuni nusantara adalah TGB alias Tuan Guru Bajang alias HM Zainul Majdi. Dia berasal dari Provinsi dengan IPM rendah namun bisa mengangkat citra NTB dan pribadinya melalui brand keulamaan yang disandang yakni Hafiz Qur'an dan seorang Umaro yang berhasil menjalankan amanah rakyat dengan memimpin Nusa Tenggara Barat selama dua periode.

Perhatikan saja langkah yang mulai dilakukan dalam memberanding TGB. Diundang ceramah agama ke seantero Nusantara. Menjadi pembicara diberbagai perhelatan nasional dan internasional.

Jika mendengar ceramah TGB dengan ulasan cerdas dan segudang refrensi qur'aniyahnya, tak ada yang tak mengaguminya. Yang tak suka berubah nge-fans dan yang suka akan makin nayaman berada di dekat anak santri ini.

Selain itu, perilaku sederhana yang menjadi kebiasaan TGB sudah mulai mengisi media sosial dan mendapat respon yang baik dari nettizen, seperti dibonceng naik motor untuk mengejar shalat subuh, makan nasi bungkus bersama masyarakat diantara tamu yang menikmati hidangan prasmanan serta informasi humanis lainnya menyertai keseharian sang pemggemar olah raga sepeda ini.

Sosok Nasionalis dan Religus adalah brand yang melengkapi brand Anti Korupsi  yang dibutuhkan dalam mencari pemimpin NKRI. Strategi humanis dengan brand yang sedang dilakukan TGB ini dapat menjadi magnit publik untuk mengantarkannya meraih taqdir menuju Indonesia Satu atau Dua di Pilpers 2019. Insya Allah.

Inilah analisa sederhana dari Abu Bongoh yang bisa saja terjadi - Salam dari Kampung []

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan