logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pengamat Politik Dadakan

Pengamat Politik Dadakan

Tahun  pemilu adalah tahun di mana rakyat dari segala lapisan masyarakat membicarakan prosesi pergantian rezim. Gerbong peralihan kekuasaan dari stasiun rezim

Politik

agus dedi putrawan
Oleh agus dedi putrawan
05 Juni, 2014 11:47:55
Politik
Komentar: 0
Dibaca: 9511 Kali

Tahun  pemilu adalah tahun di mana rakyat dari segala lapisan masyarakat membicarakan prosesi pergantian rezim. Gerbong peralihan kekuasaan dari stasiun rezim yang satu kepada stasiun rezim yang berikutnya.  Di mana setiap orang menyisihkan waktu luangnya untuk mendiskusikan hal tersebut, baik di seminar-seminar, talk show, diskusi di kelas, maupun di warung kopi.  Memilih dan memilah calon mana yang ideal untuk lima tahun memimpin Indonesia. Semua seakan menjadi pengamat politik yang handal, masalah Black Campane dan Negative Campane  menjadi topik yang hangat dalam forum-forum tersebut. Semua orang seakan punya bahan untuk bedebat mendukung Jawara mereka masing-masing, petani, nelayan, guru, kurir, sopir, pedagang, pemulung, pengemis, pengangguran sibuk mengamati dan mencemooh calon-calon yang tampil.

2014 di alam Indonesia seakan dipenuhi dengan perbincangan tentang presiden dan wakilnya,   di saat inilah sang calon turun gunung, berziarah kepada petani, nelayan, guru, kurir, sopir, pedagang, buruh, pemulung, pengemis, pengangguran guna menjajakan dirinya serta program-programnya untuk dipilih “pilih saya, pilih saya” dan “coblos no. sekian” . Ada yang memberi sedekah (modus kampanye), ada yang menyirami kantong-kantong kering para tim sukses, ada juga yang membangunkan tempat ibadah untuk para konstituen fanatiknya. Argumen puji-pujianpun melayang-layang terbawa angin kesana kemari memenuhi alam demokrasi Indonesia 2014.  Ironisnya, ketika calon lain melakukan hal serupa, berziarah kepada konstituennya mulailah para petani, nelayan, guru, kurir, sopir, pedagang, buruh, pemulung, pengemis, pengangguran bingung.  Di saat inilah lahir pengamat-pengamat politik dadakan, kelebihan dan kejelekan diumbar kemana-mana. Analisis kritis terhadap calon mulai dari atas kepala sampai kebawah ujung kuku dikomentari. Argumen-argumen inipun tak jarang kita temukan di media sosial mulai dari  yang belum mempunyai hak suara sampai kepada pakar politik menulis status tentang pilpres ini.   

PARA PENGAMAT POLITIK DADAKAN, APA YANG MEREKA DAPATKAN SETELAH 2014 LEWAT?

Musim ziarahpun telah usai, waktunya presiden terpilih naik gunung. Suara-suara yang dulunya nyaring tentang capres dan cawapres kini senyap tak berbekas. Saatnya para petani, nelayan, guru, kurir, sopir, pedagang, buruh, pemulung, pengemis, pengangguran kembali fokus ke profesi masing-masing. Janji-janji politik tak pernah digubris lagi, seakan hilang dari memori kolektif para pengamat.   

 

Baca Juga :


APAKAH TEMA KESEJAHTERAAN HANYA DIBAHAS PADA TAHUN PEMILU SAJA?..

 Sudah berapa biayai yang dipakai untuk mensosialisasikan program dan biaya pencitraan selama 2014, tema kesejahraan tergantikan oleh tema mengembalikan modal kampanye yang tak dapat dihutung kalkulator konstituen.  Di mana lagi ada sikap kritis kaum pengamat, mengkritisi hal tersebut?.. akankah jumlah pengamat dadakan berbanding lurus dengan jumlah orang-orang yang perduli terhadap bangsa ini setelah 2014? [] - 05



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan