logoblog

Cari

Distorsi Nilai-Nilai Kebangkitan Bangsa.

Distorsi Nilai-Nilai Kebangkitan Bangsa.

  Hari Kebangkitan Nasional ke 106 tahun 2014 merupakan bentuk penghargaan bangsa ini terhadap sejarah Negera kesatuan republik Indonesia. Hari Kebangkitan Bangsa

Politik

agus dedi putrawan
Oleh agus dedi putrawan
28 Mei, 2014 09:08:22
Politik
Komentar: 0
Dibaca: 26967 Kali

Hari Kebangkitan Nasional ke 106 tahun 2014 merupakan bentuk penghargaan bangsa ini terhadap sejarah Negera kesatuan republik Indonesia. Hari Kebangkitan Bangsa adalah tonggak sejarah ketika dimulainya pekikan “Merdeka Atau Mati”. Bung Karno dan generasinya membuat bangsa terdahulu bergerak. Semua merasa ikut punya Indonesia, semua beriuran tanpa syarat demi tegaknya bangsa merdeka yang berdaulat. Ada yang beriuran tenaga, pikiran, uang, barang dan termasuk nyawa[1]

Pancasila menjadi gerbong berjalan dari satu rezim ke rezim yang lain. 1 Juni 1945 di depan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang pondasi dasar Indonesia yang beliau sebut dengan istilah pancasila sebagai dasar filosofi atau pandangan hidup bagi Indonesia merdeka.

Dalam perjalanannya, pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik. Sejak zaman Demokrasi Parlementer, Era Demokrasi Terpimpin, Era Demokrasi Pancasila, hingga Demokrasi Multipartai di Era Demokrasi saat ini. di setiap zaman, pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofi bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah. Sejak 1998, kita memasuki era reformasi, di satu sisi kita menyambut gembira munculnya fajar demokrasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan demokrasi tersebut ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama!. Di manakah pancasila kini berada? Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998 pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi, pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa, pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dibahas, dan apalagi diterapkan baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan[2].

 Akibat Reformasi yang kebablasan, di tambah dengan globalisasi yang begitu masif, membawa genarasi bangsa ini mengalami dekadensi moral yang begitu akut. Nyanyian-nyanyian yang biasa terdengar ketika upacara kemerdekaan, kini berganti dengan musik Pop, K-Pop ala Boy Band dan Girl Band Korea. Terjadinya kekerasan sexual yang tak lagi pilih tempat, pencurian, perampokan, yang dimotori oleh anak-anak dibawah umur. Krisis keteladanan yang mempertontonkan para koruptor, money politik dan arah politik yang tidak fear para elit memberikan contoh yang tidak baik kepada generasi penerus bangsa.

Indonesia yang kita kenal kini tersandera kepentingan modal, Indonesia mengalami krisis legitimasi atas kewilayahnya sendiri, Indonesia juga sedang dihantam oleh badai kemiskinan yang semakin hari semakin membengkak, Indonesia saat ini sedang berusaha keras memperthankan integritasnya sebagai negara bangsa.[3] Rakyat Indonesia sedang mengalami perang poltik indentitas yang melahirkan dikotomi kaum mayoritas dan minoritas.[4]   

Maka dari itu, dengan refleksi “Hari Kebangkitan Nasional” 20 Mei kemarin, mari kita bangun dari tidur panjang selama 29 tahun sejak Reformasi, kita optimis Pancasila masih ada di dalam sanubari bangsa ini. Negeri ini mendambakan pemimpin-pemimpin yang memberikan teladan-teladan dalam bingkai kepancasilaan, ia harus menunjukan dirinya sebagai orang yang visioner, negarawan, elektabilitas, kapabilitas dan yang mempunyai komitmen yang tinggi di segala bidang. Pancasila harus menjadi senjata ampus untuk melawan arus tranformasi informasi global yang sifatnya masif, sehingga tidak akan mudah luntur meski silih bergantinya rezim.

Hari kebangkitan nasional adalah hari yang tepat untuk mengevaluasi bangsa ini, hari di mana kita satukan visi dan misi untuk cita-cita “adil, makmur dan sentosa” serta mengimplementasikan empat pilar kebangsaan.

 

Baca Juga :


 

[1] Anis Baswedan, Kompas, Rabu, 16 April 2014.

[2] Pidato kebangsaan, Presiden ke-3. Prof. Dr. BJ Habibie.  Juli, 2011.

[3] Megandaru, Kamus Politik Moderen (Yogyakarta: Pura Pustaka, 2008),h. 92.

[4] Syafii ma’arif, politik indentitas dan masa depan pluralisme kita, Edisi Digital (Jakarta: Demokrasi Poject, 2012), h.3



 
agus dedi putrawan

agus dedi putrawan

Agus Dedi Putrawan, Ketua Bidang Kajian dan Riset di Berugaq Institute Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Mataram

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan